19 Oktober 2010: Penantian

Ki pikir, mungkin berbagi tentang keseharian Ki bisa jadi sesuatu yang beda.

Jurnal ini akan berisi tentang keseharian Ki yang apa adanya. Yang berusaha untuk membuat segalanya lucu, menyenangkan, dan bersemangat. =)

Selasa, 19 Oktober 2010, ±14.30 WITA

Ih, judulnya sok seru! Hahaha…

Hari ini, Ki dapet amanat dari kakak yang berada di seberang selat: disuruh ambil pesenan CD di suatu tempat dan waktu yang telah dijanjikan. Ki pun pergi ke tempat yang dituju pada jam tersebut. Si pedagang CD ternyata belum dateng. (Ki tidak tau siapa jeneng pedagang itu, maka jadilah Ki panggil subjek ini sebagai “pedagang CD”. Maaf, karena Ki menurunkan derajat namanya. –‘v)

Sambil menunggu, sebenarnya Ki merasa gelisah juga. Soalnya—sekali lagi—Ki tidak tau siapa nama dan rupa pedagang CD tersebut. Ki coba tanya ke kakak. Kurang lebih, kutipan SMS antara Ki dan kakak seperti ini:

Ki: “Nanti Ki ngomong opening-nya kayak gimana? Ambil pesenan ***** (sensor nama kakak)?”

Kakak: “Nggak. Dia nggak tau namaku. Bilang aja mau ambil CD software recording.”

Ki mulai bingung. Bagaimana bisa mereka membuat perjanjian tanpa mereka saling tau nama? Bisnis memang buta.

Ki: “Tanyain ke dia, dong! Dia pake baju apa? Biar gampang Ki nyari orangnya.”

Kakak: “Udah kutanya lewat SMS. Tapi dia nggak bales. Nanti cari aja orang yang lagi celingak-celinguk sendirian. Itu pasti dia.”

Ki mulai merasa kakak tidak bertanggung jawab.

Ki: (pertanyaan pamungkas) “Minta no. HP-nya deh, kalo gitu!”

Hampir satu jam, baru si pedagang itu muncul. Benar-benar WITA: Waktu Indonesia Terserah kitA. Tapi tidak apa-apalah. Berhubung mukanya bulet, jadi Ki maafkan.

CD yang dinanti pun sampai di tangan Ki. Entah kenapa, Ki merasa CD itu jadi naik kodrat. Tidak lagi sekedar CD pesenan kakak. Itu CD hasil penantian Ki.

Selasa, 19 Oktober 2010, ±15.30 WITA

Ki telat sampai di tempat les selama 30 menit. Kebetulan Ki les di tempat les yang menyediakan waktu break setiap—kira-kira—40 menit. Jadi, baru sebentar Ki duduk, tanda break sudah terdengar. Ki tidak merasakan suatu hal yang istimewa, tapi kebanyakan teman Ki yang taat mengikuti les dari awal tampak begitu menikmati break 5 menit tersebut.

Pelajaran les pun dilanjutkan.

Setelah merasa agak bosan, Ki melirik arloji. Astajim! Break selanjutnya masih 30 menit lagi! Seketika Ki berharap arloji itu rusak!

Dan 30 menit terasa seperti 30 hari mencari cinta. Waktunya break. Ki senang sekali. Ingin rasanya sujud syukur sampai mencium tanah! =P

Ki banyak menunggu hari ini. 10% menyebalkan, 90% membosankan. Tapi untunglah, hasil penantian itu 100% tidak sia-sia. =)

Kenapa? Karena,

“Suatu hal yang ditunggu itu akan terasa lebih berarti.”

-Ki Aori-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s