31 Oktober 2010: Akhirnya~

Minggu, 31 Oktober 2010, ±20.00 WITA

Mohon maaf atas ke-vakum-an Ki menulis jurnal selama ini~ TT

Ke-vakum-an itu disebabkan oleh beberapa halangan, salah satunya adalah adanya jarak antar Ki dengan internet. Yah, seminggu ini, Ki numpang hidup di rumah sepupu. Dan di sana memang sangat berbeda.

Ki jadi ingin cerita sedikit tentang pengalamannya saat menumpang hidup itu.

Lain lubuk, lain ladang. Lain pupuk, lain belalang. Lho?

Penghuni rumah itu tampaknya tipe orang yang disayang petugas PLN. Mereka hidup dalam kehematan listrik—salah satu yang paling Ki rasakan adalah dalam kasus penggunaan lampu. Padahal Ki akrab dengan keterang-benderangan. Di sana juga tidak ada layanan internet. Ada, sebenarnya. Tapi tidak bisa di-eksploitasi (ups!). Jadilah Ki terisolasi dari dunia maya. Selain itu, mereka berkawan dengan “ayam” dan Ki biasa berkawan dengan “tukang ronda teladan”. Mereka terbiasa bangun sangat pagi dan tidur di jam tidur normal, sedangkan Ki terbiasa bangun saat “pagi-nya siang” dan tidur jauh di atas jam tidur normal yang dianjurkan. Ki mungkin akan di-blacklist oleh konsultan hidup sehat dan hemat.

Itu baru beberapa. Masih ada hal lain yang membuat Ki harus benar-benar menerapkan salah satu ciri makhluk hidup: adaptasi.

Awalnya, Ki merasa gugup juga. Benar-benar merasa tidak sesantai saat di rumah sendiri. Jadi merasa bingung kalau mau melakukan sesuatu. Harus berusaha terbiasa dengan perbedaan yang ada.

Tapi lama-lama—setelah Ki tau letak ember, jemuran, tempat sampah, dan cemilan—Ki jadi mulai bisa menerima semuanya. Semua hal yang Ki anggap aneh pada awalnya, jadi tidak terasa aneh lagi sejak Ki berusaha melakukannya dengan cara yang sama: tenang dan santai. Ternyata, bila Ki melakukannya dengan tenang dan santai—sama dengan yang biasa Ki lakukan di rumah—semua “perbedaan” itu menjadi sama saja! =D

Setelah Ki bisa berbaur dengan “adat” di rumah itu, Ki jadi teringat dengan masa-masa awal Ki menginjakkan kaki di rumah itu—di saat Ki merasa takut tidak bisa terbiasa. Dalam kasus ini, Ki bisa memahami sesuatu.

“Perbedaan tidak bisa membuatmu takut. Justru rasa takutmu yang membuat segalanya berbeda.”

-Ki Aori-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s