4 November 2010: Guru Oh Guru

Ki pikir, mungkin berbagi tentang keseharian Ki bisa jadi sesuatu yang beda.

Jurnal ini akan berisi tentang keseharian Ki yang apa adanya. Yang berusaha untuk membuat segalanya lucu, menyenangkan, dan bersemangat. =)

Kamis, 4 November 2010, ±16.00 WITA

Tumben! Pas les tadi, tumben—ehm, tolong digarisbawahi—tumben, Ki berhasil mengikuti pelajarannya dari awal sampai akhir! Termasuk fenomena tu! Hihi…

Jadi, pas les jam fisika tadi, guru yang mengajar masih muda. Cowok, jangkung. Yang buat Ki semangat belajar bukan karena tampangnya. Tapi karena guru itu terlihat welcome (padahal murid-muridnya cuma sedikit dan—sumpah—kelasnya lagi dingin banget! –‘).

Saat dia membahas soal, Ki sempat meralat sedikit penjelasannya. Diralat begitu, dia langsung mengubah penjelasannya dan bilang “terima kasih”.

Ih, wao!

Ki selalu salut sama guru yang menerima ralat dari muridnya dengan terbuka. Tidak perlu berdebat, tidak perlu mengelak. Menerima dan menghargai ralat dari murid akan sangat berarti bagi murid. Beneran, deh! =D

Selain itu, dia juga merendah. Dia bilang, dulu dia juga tidak pintar. Saat kuliah, dia bahkan sempat dihukum oleh dosen karena tidak paham dengan materinya. Dia juga maklum bila murid-murid sulit paham fisika.

Guru itu bilang, “Yah, beban kalian berat. Kalian ‘kan tidak hanya belajar fisika. Kalian juga belajar kimia, matematika…”

Wew, guru yang sangat-sangat-sangat perhatian! Jadi terharu. TT

Omong-omong soal guru, sebenarnya arti guru sendiri ‘kan bisa dalam formal atau informal. Belajar tidak hanya berkaitan dengan pelajaran “pasti” di sekolah. Belajar melipat kertas pun tetap namanya “belajar”. Jadi, guru itu bisa siapa saja, bisa ditemui di mana saja, dalam bentuk apa saja. Tidak ada yang bilang kalau semut tidak bisa mengajari kita. Buktinya, kita harus bisa meneladani sifat semut yang selalu bekerja keras dan bergotong royong. Kita pun bisa menjadi guru bagi diri kita sendiri bila kita mau. =)

Guru harus sesuai dengan bidangnya.

Kalau gurunya berparas tampan…

Cocok untuk guru pelajaran bahasa asing, karena kita akan merasa semangat belajar demi menulis surat cinta untuknya!

Kalau gurunya berpikiran rumit…

Khusus untuk murid yang tidak suka olahraga, mungkin guru macam ini bisa ditempatkan di pelajaran olahraga. Karena bila dibanding dengan berlari memutar lapangan, beliau akan lebih memilih untuk menghitung waktu yang terbuang dengan mengandalkan kecepatan rata-rata pelari dan jarak yang ditempuh. Hihi…

Kita balik lagi ke guru fisika yang baik hati itu.

Berkat cara mengajarnya yang asik—haha—Ki jadi mendapat satu “pelajaran” baru, di luar fisika yang diajarkannya.

“Guru yang pintar tidak selalu baik. Guru yang baik adalah guru yang mengerti. Mengerti apa yang diajar, mengerti bagaimana cara mengajar, dan mengerti siapa yang diajar.”

-Ki Aori-

4 thoughts on “4 November 2010: Guru Oh Guru

  1. hehe…
    makasi dhita~ X)
    yup, guru GO…
    haa?
    masa’ dhita ga pernah les?
    kayaknya sering liat… hehe…
    yah, paling ga, ga lebih jarang dbanding bayu… =P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s