6 November 2010: Korek Api Haha

Ki pikir, mungkin berbagi tentang keseharian Ki bisa jadi sesuatu yang beda.

Jurnal ini akan berisi tentang keseharian Ki yang apa adanya. Yang berusaha untuk membuat segalanya lucu, menyenangkan, dan bersemangat. =)

Sabtu, 6 November 2010, ±07.30 WITA

Sebenarnya Ki merasa bodoh dengan cerita ini. Tapi tak apa-apalah. Namanya juga berbagi cerita. Hihi…

Jadi, tadi pagi, Ki lagi kumpul bareng teman-teman. Salah satunya mau hidupin korek api buat hidupin dupa untuk sembahyang. Korek api zaman dulu, yang merek Pelangi. =D

Tidak ada hubungan dengan merek sebenarnya, tapi Ki jadi mendadak kangen dengan zamannya mati lampu bergilir. Kebetulan—yang menyebalkan—lingkungan rumah Ki termasuk salah satu lingkungan yang paling sering mendapat giliran mati lampu. Namanya saja yang mati lampu “bergilir”, tapi pasti ada saja ‘kan lingkungan yang diprioritaskan, mana yang tidak. Karena Ki sering ditinggal sendirian di rumah, maka 95% kejadian mati lampu terjadi saat Ki sedang sendirian jaga rumah malam-malam.

Saat itu adalah saat-saat awal Ki bisa menghidupkan korek api manual, yang harus menggesekkan korek dengan kotak tempatnya itu—entah apa namanya. Sebenarnya untung-untungan saja. Sampai sekarang, Ki masih belum tau gimana cara menghidupkan korek macam itu dengan baik dan benar. Tapi yang namanya terdesak, pasti selalu saja ada keajaiban. Setiap mati lampu di waktu yang tidak asik seperti itu, Ki selalu bisa menghidupkan korek meski harus membuang beberapa korek sebelum berhasil. =P

Didesak oleh rasa kangen itu, maka Ki menawarkan jasa pada teman Ki itu untuk menghidupkan korek. Satu kali gesek, tidak bisa. Dua kali, tiga kali, tidak bisa juga. Ki pun jadi semakin semangat. Empat kali, lima kali, … tak! Korek patah.

Merasa telah menghambat seseorang untuk sembahyang, Ki memberikan korek itu kepada teman lain yang ternyata jadi penasaran gara-gara melihat cara bodoh Ki dalam menghidupkan api korek.

Rasanya tidak seru kalau teman Ki itu langsung bisa menghidupkan api korek. Pada akhirnya, dia malah juga mematahkan korek. Teman-teman lain pun jadi penasaran. Satu per satu mereka minta giliran untuk menghidupkan korek. Suasana jadi rame hanya karena Ki yang mengawali kebodohan pagi itu.

Setelah dipikir-pikir, Ki jadi bingung, entah merasa bodoh karena tidak bisa menghidupkan korek atau bangga karena bisa membuat suasana pagi yang biasa menjadi “bodoh”. Haha…

 

“Dari sana ke sini, dari sini ke sana, hal-hal lucu di mana-mana.”

-Dr. Seuss (penulis dan kartunis)

“Semua hal menjadi biasa kalau kita mengerjakannya dengan cara yang biasa juga.”

-Ki Aori-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s