3 Desember 2010: From Besakih with Love

Ki pikir, mungkin berbagi tentang keseharian Ki bisa jadi sesuatu yang beda.

Jurnal ini akan berisi tentang keseharian Ki yang apa adanya. Yang berusaha untuk membuat segalanya lucu, menyenangkan, dan bersemangat. =)

Jumat, 3 Desember 2010, ±14.00 WITA

Lahir di Bali, 17 tahun lebih tinggal di Bali, menghabiskan seluruh waktu sekolahnya di Bali, Ki tetap setia tidak bisa Bahasa Bali + baru sekali pergi ke Besakih. Itu juga gara-gara tadi ada acara rapotan di Besakih. Jelas ngambil rapot bareng temen-temen di Besakih bakal jauh lebih seru daripada ngambil rapot sendirian di kantor guru.

Kebetulan Ki sekelas sama temen-temen yang gokil. Jadilah perjalanan pergi-pulang Denpasar-Besakih itu menjadi unforgettable tripand un-quiet-able trip. =P

Pertama, perjalanan pergi diributkan dengan film horor (?)—bukan jenis film yang layak ditonton dalam perjalanan menuju tempat sesuci Besakih sebenernya. Dan terutama film horor Indonesia itu sangat “menguatkan” bagian audionya. (Udah terbukti jelas tadi. Kebetulan Ki yang duduk di hadapan speaker. –‘)

Dan perjalanan pulangnya lebih rusuh lagi. Kami adalah jenis kelas yang tidak cocok ditempatkan di suatu perjalanan yang membutuhkan kesunyian. (Swear!)

Jadi, di saat perjalanan pulang, terjadilah permainan berbahaya yang hanya diciptakan khusus untuk orang-orang yang bernyali extreme. Kejadian yang terjadi selanjutnya bukan hanya sekedar kejutan lagi. Mungkin itu adalah keajaiban… atau mungkin malah kejujuran?! O.o’

Well, hukuman menyatakan cinta bagi yang kalah dalam game tersebut mungkin memang menyiksa. Tapi bagi yang nonton? Sepertinya acara itu lebih seru dibanding film India yang diputer dengan layar tancep di tengah lapangan. (Jaman kapan, tuh, acara nonton film India rame-rame di tengah lapangan?)

Then, how about a kiss?

Wajar aja bila yang melakukannya adalah sepasang insan yang telah berikrar. Tapi bagi kami—di atas bis yang mengantar kami dari Besakih—a kiss isn’t just a kiss. Believe me. =)

“Bersenang-senang tidak harus dilakukan dengan cara yang lazim. Setiap orang memiliki caranya sendiri.”

-Ki Aori-

#dedicated to: D.I.E#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s