28 Maret 2011: Bad Day

Ki telat nge-post jurnal lagi. =P

Maklum yaa, komputernya Ki kadang-kadang meregang nyawa, jadi tidak bisa dioperasikan tiap hari. Hihi. Well, Ki pingin cerita tentang salah satu hari terburuk Ki. =’(

Senin, 28 Maret 2011, ±10.00 WITA

Akhir-akhir ini, Ki sering membawa minum dengan gelas bertutup (tupperware) ke sekolah. Alasannya simple: hemat. Awal-awal membawa minum ini, sih, tidak ada masalah. Hingga akhirnya, saat Ki sedang pergi ke supermarket bersama salah seorang sahabat, eng ing eeeng, tiba-tiba saja tas Ki sudah berlumuran darah… eh, air! Ki jelas kaget, tapi tetap berusaha tenang. Setelah di-check and re-check, tutup gelasnya terbuka. Mungkin Ki kurang rapat menutupnya karena buru-buru memasukkan semua barang yang berserakan di atas meja ke dalam tas saat masih di sekolah. TT

Senin, 28 Maret 2011, ±11.30 WITA

Sepulang dari supermarket, Ki ditraktir ke Hoka-hoka Bento! Ini pertama kalinya Ki makan di Hoka-hoka Bento Bali. Jadi, Ki awam banget dengan cara pemesanannya. Ki minta tolong sahabat untuk memesankan makanan. Ki pesan Kidzu Bento karena trauma memesan paket untuk orang dewasa. Ki pernah kekenyangan sampai mogok ngomong! =P

Well, saat Ki disodorkan Kidzu Bento oleh karyawannya, Ki yang sok tau melihat ada sumpit di sebelahnya. Tanpa pinggir panjang, Ki pun mengambil sumpit itu. Tapi, si karyawan tersebut langsung panik. Kenapa?

Karena itu bukan sekedar sumpit, sodara-sodara! Itu adalah pulpen! Sumpit yang sebenarnya (yang memang diberikan untuk pelanggan sebagai alat makan) ternyata diberikan di kasir. Maluuu~

Tak lama setelah itu, Ki malah dibecandain oleh pelanggan lain karena seorang pelajar SMA tampak sedang memesan Kidzu Bento. Malu kuadrat. -_____-

Senin, 28 Maret 2011, ±14.30 WITA

Ki sedang buka jasa melukis kaos. Jadi, Ki melukis gambar (atau menulis tulisan) di kaos putih sesuai dengan pesanan pelanggan. Pada suatu pesanan, Ki sedikit melakukan kesalahan. Jadi, letak tulisannya agak cenderung ke bawah. Sebenarnya, Ki menyadari itu. Ki pun hanya bisa berharap, semoga si pelanggan tidak mempermasalahkannya. Hehe.

Tapi kesalahan tetaplah kesalahan. Ki berusaha tanggung jawab dengan kesalahan Ki. Ki memang bukan pedagang kelas kakap yang pandai bernegosiasi atau rela melakukan apa saja asal tidak rugi, tapi Ki berusaha profesional. Ki anti membuat pelanggan kecewa. =)

Yup, berdasarkan hal-hal menyebalkan yang sempat membuat Ki down dan repot seharian itu, Ki pun berpikir tentang bagaimana asal mula semua kesialan tersebut bisa terjadi. Awalnya, saat sedang emosi to the max, Ki berpikir itu semua memang hanya nasib atau cobaan yang harus diterima dan dijalani dengan lapang dada. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, rasanya Ki ikut ambil peran dalam cobaan tersebut.

1.  Air minum Ki tumpah karena Ki ceroboh—tidak menutupnya dengan rapat,

2. Ki salah ambil sumpit karena Ki tidak cermat dalam memperhatikan sesuatu,

3. Ki salah tulis di kaos karena ketidaktelitian Ki dalam bekerja.

Jadiii, menurut Ki,

“Kalau tidak ingin sial, maka berhati-hatilah.”

-Ki Aori-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s