18 Juni 2011: She waits for him

Ki pikir, mungkin berbagi tentang keseharian Ki bisa jadi sesuatu yang beda.

Jurnal ini akan berisi tentang keseharian Ki yang apa adanya. Yang berusaha untuk membuat segalanya lucu, menyenangkan, dan bersemangat. =)

Sabtu, 18 Juni 2011, ±13.00 WITA

Kemarin malam ada acara manggang bareng sekelas. Ki memprediksi acara itu akan berlangsung sampai malam dan prediksi Ki benar. Pingin, sih, ikut acaranya sampai selesai, tapi Ki tau kalau itu susah. Sebagai seorang anak bungsu yang belum dianggap mandiri oleh orang tua, aturan jam malam jelas berlaku. Apalagi acara ini bukan acara wajib yang membawa nama baik negara. (Apaan coba?)

Awalnya kesel, sih. Yah, namanya anak muda, ‘kan kadang-kadang pingin rame-rame terus sama temen-temen. Tapi Ki juga tidak bisa menyalahkan kebijaksanaan jam malam itu. Yang namanya orang tua pasti tidak ingin anaknya jadi nocturnal.

Kemarin juga Ki sempat melihat SMS seorang temen—SMS dari ibunya yang mengingatkan dia supaya jangan pulang terlalu malam. (Maaf, yaa, buat temennya Ki yang Ki contek inbox-nya. =P)

Ki jadi flashback. Teringat saat Ki masih di Jogja. Saat itu, Ki tinggal bersama nenek dan kakak laki-laki. Nah, suatu hari, saat hari sudah malam, kakak Ki belum pulang. Ki, sih, tidak ambil pusing. Ki berpikir, ‘kan wajar cowok belum pulang jam segini, pasti masih ada kesibukan di kampus. Lalu, saat Ki melewati ruang tamu, tidak sengaja Ki melihat nenek Ki sedang sendirian duduk di sana sambil menatap jendela. Ki langsung nyamperin.

“Ngapain, Yangti (eyang putri)?” tanya Ki.

“Nungguin mas (kakak Ki).”

Ki terdiam.

Dan kemudian, nenek Ki cerita, “Kalau malam-malam, ujan, dan mas belum pulang, yangti takut. Pasti yangti duduk di sini ngeliatin hujan sambil nungguin mas.”

Ki tidak tau harus menjawab apa. Tadinya Ki berpikir, seharusnya yangti menunggu saja di dalam kamar sambil nonton TV. Tapi mungkin saat anak belum pulang, orang tua tidak bisa menunggu dengan senyaman itu.

Dan Ki kembali flashback. Kini ingatan Ki semakin jauh. Teringat saat Ki mau pergi bareng temen-temen, papa Ki berkata, “Jangan terlalu lama perginya. Nanti kalau kamu jadi orang tua baru kamu ngerti gimana rasanya mengkhawatirkan anak.”

Hahh. Pelan-pelan Ki mulai memahami kekhawatiran orang tua itu. Kekhawatiran yang bertentangan dengan keinginan semua anak untuk bebas menghabiskan waktu. Mungkin, kalau kita pulang tepat waktu, orang tua tidak menyambut kita dengan gembira. Tapi bila kita pulang jauh dari jam yang diharapkan, kita bisa saja dimarahi. Itulah salah satu harapan orang tua yang tidak selalu dikatakan karena orang tua berpikir kalau anak-anak sudah seharusnya tau: harapan untuk melihat anaknya di rumah dengan aman.

Di jurnal kali ini, Ki tidak memihak sepenuhnya kepada orang tua karena Ki juga masih seorang anak yang ingin bermain bebas. Karena itu, berbeda dari jurnal-jurnal Ki yang sebelumnya, Ki tidak menyimpulkan sesuatu. Ki hanya ingin mengingatkan bahwa orang tuamu selalu menunggumu di rumah. =)

-Ki Aori-

*Untuk anak-anak yang selalu ingin pergi tapi memiliki orang tua yang khawatiran. Dan untuk para orang tua khawatiran yang memiliki anak yang selalu ingin pergi ke luar rumah. Semoga kalian bisa saling memahami. =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s